Masih ingat dengan vanity url yang bisa didapat dari Facebook? Itu lho, anjuran Facebook bagi para pengikutnya untuk segera mengubah "user id" yang sebelumnya kombinasi angka menjadi "user name" yang gampang dibaca dan syukur-syukur bisa menjual. Kalau belum, nggak bosen-bosennya saya anjurkan untuk mengklik http://facebook.com/username.
Nah, bagi yang sudah terlanjur mengklaim username dan ternyata lama-lama dirasa nama tersebut kurang keren (karena mungkin dulu kurang ide dan keburu diconfirm), silahkan mengubahnya sekarang. Karena Facebook ternyata berubah pikiran terhadap kebijakan pemilihan vanity url penggunanya, yang sebelumnya dinyatakan: sekali mengklaim sebuah username, maka jangan harap fesbuker dapat merubahnya di kemudian hari. Kenyataannya, anda sekarang masih bisa merubahnya, sekalipun itu dengan wanti-wanti tambahan seperti halnya dulu saat pertama dilaunch: anda hanya bisa mengubahnya sekali (lagi) ini saja!
Berikut ini dokumentasi iseng saya terkait dengan perubahan username itu:
1. Seperti biasa, untuk merubah segala sesuatu yang terkait dengan account kita, "larilah" ke menu Settings > Account Settings. Atau langsung klik contekan link ini: https://register.facebook.com/editaccount.php.
2. Jika anda lari ke tempat yang benar, harusnya terpampang page "My Account" dan sejumlah informasi terkait dengan account anda ditampilkan di tab pertama, "Settings".
3. Klik link "change" di samping kanan info "Username".
4. Sekarang tiba saatnya melakukan hal terpenting terkait dengan ke-eksis-an anda di Facebook. Pikir sekali lagi nama baru yang akan anda klaim, karena kesempatan kali kedua ini katanya adalah yang terakhir. Isikan username baru tersebut pada isian yang disediakan.
5. Klik tombol "Check availability". Jika pilihan nama itu tidak terlalu populer, harusnya akan tampil page berisi notifikasi "Username Available".
6. Klik tombol "Confirm" jika sudah bulat dengan pilihan nama tersebut.
Selesai sudah prosesi perubahan username tersebut. Moga-moga pilihan nama baru anda tersebut termasuk dalam nama favorit incaran para pemuja SEO.
Sunday, August 2, 2009
Facebook Username Itu (Ternyata) Masih Bisa Diubah
Posted by Fauzy Firdaus at 1:48 PM 0 comments
Friday, July 10, 2009
Titik yang Tidak Dianggap
Mungkin sebagian besar temen-temen fesbuker sudah pada tahu kalau sejak 13 Juni 2009 lalu, Facebook memungkinkan penggunanya untuk memiliki alamat personal profile yang lebih manusiawi atau biasa disebut "vanity url". Buat yang belum, klaimlah sekarang di http://www.facebook.com/username. Sepanjang username yang anda maui masih tersedia di database Facebook, anda bisa mengklaimnya. Facebook membatasi karakter yang digunakan untuk pembuatan username hanya pada alphanumeric (A-Z, 0-9) atau titik/period (".").
Nah, karakter "." inilah yang punya perilaku unik atau tepatnya diperlakukan unik. Karena ternyata karakter titik ini tidak dianggap, atau dianggap bukan bagian dari username itu sendiri. Jadi seandainya fesbuker lain sudah mengklaim username misalnya mano.hara, maka jangan harap anda dapat membuat username dengan variasi man.ohara, atau m.ano.hara, apalagi malah ngotot membuatnya menjadi ma...no...ha...ra. Karena keempat variasi username tersebut akhirnya bermuara pada nama yang sama: manohara. :)
Kalau anda sudah mengklaim Facebook username, silahkan dites keunikan vanity url anda dengan mengetikkan username yang diperoleh di belakang http://facebook.com. Misalnya alamat personal profile punya saya diketik di address bar browser sebagai berikut:
Maka engine Facebook tetap istiqamah menuju url yang sebenarnya, yaitu http://facebook.com/fauzy.firdaus.
Usut punya usut, ternyata Facebook bukan yang pertama yang mengabaikan karakter "." di username ini. Gmail (Google Account) sudah lama tidak menganggap keberadaan titik atau period tersebut. Saya coba ketikkan hal berikut ini di halaman login Gmail:
Dan, email-email di inbox Gmail saya tetap terpampang dengan sumringah.
* Sebagaimana dilamunkan oleh penulis di note fb.
Thursday, July 9, 2009
Warna-warni Label Gmail
Saya hanyalah salah satu dari sekian juta (?) penggemar produk-produk hasil olahan Google Inc. Gmail salah satunya. Produk "bebas-pakai" --- untuk tidak menyebutnya gratisan --- yang satu ini saat ini, menurut saya, sudah memenuhi ekspektasi penggila teknologi Internet akan suatu perangkat bernama "(e)mail manager".
Gmail, sejak kemunculannya 5 tahun lalu hingga sekarang dan sudah tidak beta-version lagi, terus berevolusi menjadi suatu perangkat pengatur email dengan sejumlah fitur kreatif yang menyenangkan penggunanya. Sebutlah di antaranya, chat atau bahkan video-chat yang berbasis browser, filtering dan labelling, mobile Gmail, Undo Send, vacation responder, keyboard shortcuts, searching yang luarbiasa fleksibel karena bisa dikombinasi dengan penggunaan operator, offline Gmail, multiple attachments yang cepat, dan lain-lain. Saya persilahkan Anda langsung menuju ke tekape jika ingin tahu lebih banyak fitur-fitur keren yang disematkan ke dalam Gmail.
Kali ini saya sedang bersenanghati untuk memaparkan hasil eksplorasi fitur Gmail: colored labelling. Yap, membuat label email dengan banyak warna sehingga menjadikannya sesemarak bendera partai. Kata "eksplorasi" mungkin terlalu berlebihan karena saya tidak perlu usaha sulit untuk mewarnai label-label tersebut. Monggo disimak sekelumit langkah-langkah berikut!
1. Tentunya Anda harus membuat label dulu dengan memilih menu "Labels" di barisan tombol operasional Gmail. Label diimplementasikan oleh Gmail benar-benar seperti halnya perangkat pelabelan Post-it. Jangan berharap Gmail membuatkan satu folder fisik untuk setiap label yang Anda buat.
2. Klik "Manage labels", maka Anda akan dibawa ke area "Settings > Labels". Silahkan ketik label baru pada field kosong yang bertanda "Create a new label" dan konfirmasi dengan mengklik tombol "Create".
3. Seharusnya label yang baru Anda buat tampil di sebelah kiri inbox (terkecuali Anda menggunakan Gmail versi Arab, Urdu atau Hebrew; akan ditempat di sebelah kiri inbox). Label tersebut memiliki warna default putih.
4. Sekarang saatnya untuk mengubah warna label. Klik kotak putih (atau bisa jadi telah berubah warna) di sebelah kiri label hingga muncul daftar warna yang tersedia. Pilih salah satu yang Anda sukai dengan mengkliknya.
5. Lakukan langkah pewarnaan yang sama untuk seluruh label yang Anda miliki.
6. Sekarang silahkan lakukan pelabelan pada email-email di inbox. Gmail menyediakan banyak cara, mulai dari dragging label yang telah dibuat tadi menuju ke satu (atau banyak) email di inbox, atau sebaliknya dragging email di inbox ke salah satu label yang dituju, sampai cara konvensional dengan mengklik pulldown menu "Labels" dan pilih salah satu (atau lebih) label yang dikehendaki.
7. Contoh penampakan label yang berwarna-warni seperti berikut ini. Semarak bukan? Tidak kalah dengan semaraknya bendera partai pada musim kampanye lalu. :) Dengan colored-label seperti ini kita bisa dengan cepat mengidentifikasi jenis email yang nangkring di inbox Gmail.
Happy Gmail!
* Referensi: http://gmailblog.blogspot.com/2009/07/labels-drag-and-drop-hiding-and-more.html
Sunday, June 28, 2009
Selamat Ulang Tahun Kompas
Hari ini, sudah 44 tahun usia Kompas. Maka di awal tulisan ini saya mengucap: “Selamat Ulang Tahun, Kompas. Semoga panjang umur, ya edisi cetaknya, ya online-nya.”
Empat puluh empat tahun, suatu usia yang sudah terbilang sepuh menurut saya. Sepuh tidak berarti melulu ubanan, tapi dia telah punya karakter, “harga diri”, kearifan, juga keangkuhan yang bertanggung-jawab. Pak Jakob Oetama menyebutnya “bersosok”, karena Kompas telah menjadi suatu lembaga yang organik dan organis.
Saya mengenal Kompas — dalam arti menyentuh, membuka, dan kemudian membacanya — saat mulai kuliah di Bogor, IPB. Sebelumnya saya cuman kenal nama, karena satu-satunya koran yang sering mampir ke rumah saya di Madura hanyalah Jawa Pos, koran andalan Pak Dahlan Iskan yang sangat digdaya di Jawa Timur. Kompas yang saya kenal waktu itu masih berukuran lebih lebar, dan belum dipoles secantik sekarang (yang kalau tidak salah ingat, Kompas menyewa konsultan dari Amrik demi polesan itu). Kompas yang waktu itu saya pinjam dari kakak kelas se-kos-an, berbahasa lebih susah ketimbang bahasa Jawa Pos yang apa-adanya.
Waktu terus berjalan. Kompas semakin akrab dengan kehidupan kosan saya, karena ada dua kakak kelas sekosan yang sudah mau lulus (bahkan kelamaan lulusnya) sangat getol menyusun tulisan agar bisa nangkring di rubrik Opini. Mereka waktu itu saya lihat lebih semangat membuat Opini-nya ketimbang menyelesaikan skripsinya. Saya tidak mengerti waktu itu, bahwa sebenarnya bukan hanya duit honor yang mereka cari, tapi suatu pride karena tulisan yang nongol di Opini Kompas adalah pencapaian tertinggi sebuah tulisan pendapat pribadi. Kata mereka.
Suatu saat saya pulang kampung, ke Madura, penghujung tahun 1993. Pulang dengan semangat kemahasiswaan yang masih bau kencur. Semangat “pemula” inilah yang membuat saya tertahan dulu sejenak di Surabaya untuk mencari Kompas edisi hari itu. Jam 7 pagi saya sampai stasiun Pasar Turi, dan ternyata Kompas belum tiba di Surabaya. Siang tengah hari baru ada, kata para loper koran. Jadilah saya ke daerah Tunjungan, hanya untuk sekedar nunggu Kompas datang dan sekalian beli oleh-oleh. Kompas itu akhirnya saya peroleh benar di tengah hari, bersama dengan Jawa Pos kemudian saya bawa menyeberang selat Madura. Sampai di rumah, setelah salam-cium-kangen keluarga, saya letakkan kedua koran itu di hadapan Bapak. Pertama kali beliau ambil sudah pasti Jawa Pos, karena koran itulah yang sangat diakrabinya. Selesai dengan koran lokal itu, beliau bolak-balik Kompas. Ternyata tidak lama, karena hanya melakukan quick-reading. Oooh ternyata bahasa Kompas masih susah, pikir saya. Pikiran itu diperkuat dengan komentar saudara sepupu saya, “koran apa ini?”, tak lama setelah ia baca headline. Aaah, sudah bahasanya “susah” kontennya juga tidak lokal. Tidak Jawa Timur, apalagi Madura. Karena saat itu Kompas memang belum punya edisi Jawa Timur. Gagallah saya menunjukkan “kebaruan” lewat Kompas yang telah saya beli dengan susah payah.
Hari ini sudah sekitar 16 tahun saya kenal Kompas. Mungkin tidak kenal terlalu dekat, tapi paling tidak saya tahu geliat Kompas untuk terus eksis di dunianya. Dulu saya lihat Kompas masih sangat dominan porsi beritanya. Sekarang, jangan ditanya seliweran iklannya, dengan berbagai model: bisa di seperempat halaman paling depan (yang dulu masih tabu), bisa 2 halaman penuh di tengah-tengah, bisa menyamar sebagai artikel, jangan ditanya iklan-baris/kolom-nya, dan lain-lain. Istri saya yang kebetulan juga berkecimpung di dunia periklanan pernah berujar, seandainya Kompas dikasih gratis dia masih bisa untung dari perolehan iklannya. Dulu saya lihat Kompas masih sangat pede dengan kebesaran edisi cetaknya. Sekarang, sudah berpikirulang dan melakukan otokritik terhadap kelangsungannya. Untuk yang ini Kompas tidak hanya diam menunggu kematiannya, tergilas oleh perkembangan berita online berbasis Internet yang memakan pembaca konvensionalnya. Lahirnya KCM dan kemudian bertransformasi menjadi megaportal Kompas.com, adalah reaksi yang tak tanggung-tanggung. Hingga akhirnya diluncurkan Kompas ePaper, yang sama persis dengan edisi cetaknya namun jauh lebih interaktif, membuat saya geleng-geleng kepala. Kagum, karena teknologi yang menyertainya memberi sensasi baru buat saya dalam membaca “koran”. Saya juga heran, mau kemana gerangan Kompas dengan adanya ePaper yang (masih) gratis ini. Terbitnya sama dinihari-nya dengan edisi cetak. Tidakkah nanti justru semakin sedikit pembaca konvensionalnya, karena mereka cukup membaca lewat monitor komputer atau gadget pintarnya yang telah tersambung ke Internet. Sekarang, beberapa artikel di Kompas cetak memiliki QR code, yang melalui QR reader terbenam di (smart)phone pembaca diberi keleluasaan untuk melakukan digging lebih dalam di megaportal Kompas melalui hyperlink yang ditunjukkan oleh dakode. Sungguh sebuah terobosan cerdas dibandingkan para kompetitornya. Pak Hermawan Kertajaya menyebutnya koran new wave, karena Kompas menggabungkan koran offline dan online menjadi satu. Saya sudah mencobanya, sekalipun masih terkesan repot tapi saya sangat kagum dengan cara baru ini.
Sekali lagi, selamat buat Kompas dengan segala pencapaiannya. Mohon maaf jika di hari ulang tahunmu ini saya justru tidak membeli edisi cetakmu. Karena begitu bangun tidur tadi pagi, istri saya sudah membuka Kompas ePaper untuk membaca berita terbaru hari ini juga untuk melacak iklannya yang sudah ditayangkan di Kompas melalui back-issues ePaper.
* Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, oleh penulis yang sama :)
Wednesday, June 24, 2009
Ya Ngebengkel Ya Ngenet
Suatu siang, di ruang tunggu pelanggan, bengkel Nissan Radin Inten, Jakarta Timur.
Telah lewat 2 jam, tapi belum ada tanda-tanda mobil saya akan selesai diservis setengah jam ke depan. Mobil abu-abu itu --- begitu anak saya yang kedua menyebutnya --- masih dikelilingi oleh para engineer Nissan yang berseragam putih merah. Lumayan banyak sih memang pekerjaannya, jika dilihat di lembaran kuning perintah kerja. Sesungguhnya cuma ada satu jenis pekerjaan, yaitu service 30 ribu kilometer. Tapi saya tambahkan empat pekerjaan lagi yang membuat estimasi selesai pekerjaan molor 1.5 jam dari seharusnya 2 jam. Dan sesungguhnya, saya sudah mempersiapkan mental dan senjata untuk tambahan waktu tersebut.
Senjata yang saya maksudkan adalah sebuah netbook yang sudah dilengkapi dengan wireless LAN. Tidak lupa charger untuk jaga-jaga seandainya batere netbook yang cuma 3 cell sekarat selama masa tunggu. Untuk jaga-jaga juga seandainya di ruang tunggu bengkel tidak tersedia hotspot, saya juga persiapkan 3G USB modem.
Ruang tunggu pelanggan, tempat saya berinternet-ria, terbilang layak. Ruang tersebut berhadapan dengan stall service, tempat mobil-mobil asuhan Indomobil diservis. Pelanggan bisa mengamati mobilnya yang sedang dioprek secara leluasa, karena sekat berupa kaca bening yang lebar memanjang seukuran sisi depan ruang tunggu. Dibuat terbuka, mungkin agar si pemilik (penunggu) mobil tidak bosan, mungkin juga agar para teknisi kerjanya bener karena sedang dalam pengawasan banyak orang. Di dalam ruang tunggu juga tersedia fasilitas pijit listrik gratis, hasil kerjasama antara Nissan dan Advance. Saya pernah mencoba rasanya saat servis pertama kali di bengkel ini. Tidak terlalu suka, tetap lebih enak pijit non-listrik, alias tangan manusia. Sebagaimana umumnya ruang tunggu, tersedia televisi pengusir kebosanan dan keheningan. Televisi tersebut nampaknya menangkap siaran lewat satelit Indovision, karena saat saya masuk terpampang channel Vision 1. Tidak lupa di ruang tunggu tersebut tersedia mentahan kopi, teh, dan gula yang bisa diracik sendiri oleh pelanggan untuk menghasilkan minuman kopi atau teh yang sebenarnya. Minuman tersebut selanjutnya bisa dinikmati di sederet kursi empuk atau kursi metal model di kafe-kafe. Malah pada salah mejanya sudah dicat papan catur hitam-putih, lengkap dengan anak-anak caturnya.
Saya duduk di salah satu kursi metal yang berdempetan dengan kaca besar. Netbook saya tempatkan di meja yang memiliki ketinggian pas untuk posisi mengetik dan membaca. Mulailah saya untung-untungan menyalakan wireless LAN dan ternyata tersedia 3 access point, yang salah satunya sangat melegakan dan memenuhi hasrat berinternet-ria, yaitu: TELKOMHotspot-Free. Tak lama kemudian saya berhasil melakukan koneksi ke dunia maya, dan terciptalah tulisan ini.
Sekalipun kebosanan tetap ada karena ternyata saya menghabiskan 3.5 jam untuk menunggu, tapi paling tidak tigaperempatnya sudah tertutupi dengan fasilitas free hotspot di ruang tunggu bengkel. Nice place...





